Cara membuat
- Campur babi, wortel, water chestnut, bawang bombay, bawang putih, daun bawang, kecap asin, saus ikan, saus tiram, telur, lada, garam, dan gula dalam mangkuk besar. Aduk searah dengan sendok selama 90 detik sampai lengket dan padu.
- Uji rasa dengan menggoreng sesendok kecil di wajan panas; cicipi dan sesuaikan rasa sebelum membungkus seluruhnya.
- Letakkan 1,5 sendok makan isian di sepertiga bawah kulit, bentuk menjadi batang tipis 12 cm. Lumpiang Shanghai Filipina berbentuk kecil — jauh lebih ramping daripada cha gio Vietnam.
- Gulung rapat: angkat tepi bawah ke atas isian, lipat sisi kiri-kanan ke dalam, lalu gulung erat ke atas. Basahi tepi akhir dengan air untuk menyegel. Tutup gulungan jadi dengan kain lembap; adonan kulit cepat kering.
- Panaskan minyak hingga 170°C. Goreng gulungan secara batch 6–8 buah selama 4 menit, sambil dibalik, hingga kuning keemasan tua dan renyah. Tiriskan di rak.
- Potong setiap gulungan secara diagonal jadi dua tepat sebelum disajikan — potongan diagonal memperlihatkan isiannya dan merupakan standar penyajian Filipina. Tumpuk di piring. Sajikan panas dengan saus pisang atau saus cabai manis. Lumpiang Shanghai bisa dibekukan dengan baik dalam keadaan mentah; goreng langsung dari beku untuk pesta.
Catatan budaya
Lumpiang Shanghai — meskipun namanya begitu — sebenarnya tidak terkait erat dengan Shanghai. Penamaannya adalah tradisi Tionghoa-Filipina: 'Shanghai' menandakan gulungan goreng kecil dibandingkan lumpiang sariwa yang lebih besar. Hidangan ini hadir di setiap pesta, fiesta, dan kumpul-kumpul ulang tahun Filipina. Trinitas makanan fiesta adalah lumpia, pancit, dan lechon. Saus pisang — diciptakan saat Perang Dunia II ketika tomat langka — adalah saus cocolan khas Filipina; tidak ada yang menandinginya. Menggorengnya dengan lemak babi memberikan rasa yang lebih otentik.