Cara membuat
- Buat isian: panaskan 3 sendok makan minyak; tumis bawang putih, lap cheong, dan dadu tahu selama 5 menit. Tambahkan tauco, kecap asin, gula, dan 100 ml air; aduk 90 detik.
- Tambahkan bengkuang dan wortel iris korek api. Tutup dan masak dengan api sedang-kecil selama 35 menit, sesekali diaduk. Bengkuang akan melunak dan menyerap bumbu, melepaskan air. Tambahkan udang di 4 menit terakhir.
- Tiriskan campuran bengkuang yang sudah matang dalam saringan, tekan untuk membuang cairan berlebih — isian basah akan membuat kulit lembek.
- Siapkan stasiun penggulungan: kulit di piring, lembar selada, isian matang, tauge, pita telur orak-arik, bawang merah goreng, kacang tanah cincang, daun ketumbar, dan mangkuk-mangkuk kecil saus manis dan sambal.
- Letakkan satu kulit popiah mendatar. Olesi tipis lapisan saus manis, lalu lapisan tipis sambal di sepertiga bawah. Letakkan satu lembar selada di atasnya, lalu 3 sendok makan isian, taburan tauge, pita telur, bawang merah goreng, kacang tanah, dan daun ketumbar.
- Gulung: angkat tepi bawah ke atas isian, lipat kedua sisi ke dalam, lalu gulung erat ke atas. Iris diagonal dan sajikan. Popiah memang dimaksudkan untuk disantap dalam jam yang sama; kulitnya melembek terkena saus.
Catatan budaya
Popiah adalah hidangan Hokkien yang merantau bersama pedagang ke Singapura, Penang, Taiwan, dan Indonesia — setiap wilayah menyebutnya sedikit berbeda dan menyesuaikan isiannya. Versi Singapura memakai bengkuang (sengkuang) sebagai isian dominan, yang memberi karakter manis-berair yang tidak dimiliki versi Penang yang lebih kering. Pesta popiah adalah tradisi Hokkien: komponen-komponen dijajarkan, dan setiap penyantap menggulung sendiri. Keterampilan menggulung — cukup erat agar utuh, cukup longgar agar tidak sobek — diajarkan sejak dini di rumah tangga Hokkien-Singapura.