Cara membuat
- Blansir iga babi dalam air mendidih selama 5 menit. Tiriskan dan bilas — langkah ini membuang busa kotor sehingga kaldu lebih bersih.
- Dalam panci besar, gabungkan iga yang sudah diblansir, bawang putih utuh, jahe geprek, campuran herbal, dang gui, kici, yu zhu, bunga lawang, kayu manis, cengkeh, dan air. Didihkan, lalu kecilkan api.
- Tutup dan rebus dengan api kecil selama 90 menit. Kaldu akan berubah dari bening ke kuning kecokelatan dengan aroma herbal-medicinal yang dalam; iga sudah mendekati empuk.
- Tambahkan merica putih, kecap asin pekat, kecap asin, gula batu, dan garam. Lanjutkan rebusan terbuka selama 30 menit, biarkan kaldu menyusut dan rasanya memekat. Warnanya akan semakin pekat menjadi cokelat-keemasan teh.
- Masukkan tahu pong dan jamur enoki di 15 menit terakhir. Keduanya akan menyerap kaldu dan menjadi kantong rasa.
- Tepat sebelum disajikan, blansir lembaran selada dalam kaldu selama 30 detik. Cara penyajian: ciduk iga, tahu pong, jamur, dan selada ke dalam mangkuk dalam, siram dengan kaldu yang melimpah. Sajikan dengan semangkuk nasi terpisah, cakwe di samping, dan cawan kecil kecap asin berisi irisan cabai rawit. Setiap orang mencocol iga ke kecap-cabai dan menyantapnya bergantian dengan nasi.
Catatan budaya
Bak kut teh — secara harfiah berarti 'teh tulang daging' — punya dua aliran utama: gaya Klang (Malaysia) yang gelap, herbal, dan kompleks; dan gaya Teochew (Singapura) yang berlada, bening, dan lebih ringan. Versi Klang yang paling banyak disantap di Malaysia konon ditemukan oleh kuli pelabuhan Hokkien di Klang awal abad ke-20 yang membutuhkan sarapan penambah tenaga untuk kerja fisik berat. Bahan herbal didapat dari toko obat Tionghoa; sebagian kios di Klang punya racikan rahasia yang menjadi identitas kaldu mereka. Menyeruput kaldu adalah kenikmatan utama; iga adalah bonusnya.