Cara membuat
- Rendam gundruk kering di air dingin 15 menit; akan rehidrasi dan berubah dari abu-abu cokelat jadi cokelat-hijau pekat. Tiriskan, peras kering, dan cincang kasar.
- Panaskan minyak mustard di wajan kecil hingga baru berasap; ini menghancurkan bau menyengat mentahnya. Tambahkan biji fenugreek; biarkan jadi cokelat tua (10 detik).
- Tuang minyak panas berbumbu langsung ke gundruk cincang di mangkuk lebar. Minyak harus masih berasap saat menyentuh gundruk; uap kilat yang dihasilkan melepaskan rasa.
- Tambahkan jahe cincang, bawang putih, cabai, bawang bombay iris, kunyit, timur halus, wijen halus, air jeruk nipis, garam, dan tomat dadu. Aduk seksama dengan tangan (lebih disukai); kehangatan tangan melepaskan rasa.
- Cicipi; harus tajam asam, asin, dengan umami sayuran fermentasi yang dalam dan rasa kesemutan timur. Sesuaikan garam atau jeruk nipis.
- Tabur dengan daun ketumbar. Sajikan suhu ruang sebagai lauk piring dal-bhat Nepal atau camilan bir. Gundruk sadeko tahan 3 hari di kulkas; rasanya makin kuat.
Catatan budaya
Gundruk adalah pengawetan sayuran fermentasi khas Nepal: sayuran berdaun (sawi, lobak, kembang kol, kale) dilayukan, ditata di toples, difermentasi laktat, lalu dijemur jadi pengawetan gelap, kenyal, dan beraroma kuat. Tekniknya berkembang di pegunungan tinggi yang dingin sebagai cara mengawetkan sayuran lewat musim dingin yang panjang. Gundruk sadeko (versi salad) adalah salah satu dari tiga hidangan gundruk utama; sup gundruk dan gundruk-ko-aalo (dengan kentang) adalah dua lainnya. Aroma menyengatnya mengejutkan pemakan pertama kali; ini jadi rasa yang setelah dipelajari, jadi esensial. Tiap rumah Nepal punya satu toples.